Banjar Media - Connecting Banjar to The World Banjar Media - Connecting Banjar to The World

Menjembatani Banjar dengan Dunia

Press ESC to close

Sultan Sulaiman Saidullah II dalam Sejarah Kesultanan Banjar

Sultan Banjar Terakhir yang Memegang Kekuasaan Absolut

Nama Sultan Sulaiman Saidullah II menempati posisi penting dalam sejarah Kesultanan Banjar. Ia dikenal sebagai salah satu penguasa terbaik yang pernah memimpin kerajaan tersebut sekaligus menjadi sultan terakhir yang menikmati kekuasaan absolut sebelum campur tangan kolonial Belanda semakin mendominasi pemerintahan di Kalimantan Selatan.

Dalam berbagai sumber sejarah, beliau juga dikenal dengan gelar Sulaiman al-Mu'tamid 'alā'Llāh dan Sulaiman Rahmatullah. 

Masa pemerintahannya menjadi periode yang sangat menentukan karena berada di antara dua zaman besar, yakni era kedaulatan penuh Kesultanan Banjar dan masa ketika pengaruh Belanda mulai menguat dalam urusan politik, ekonomi, serta pemerintahan kerajaan.

Pemerintahannya yang berlangsung dari tahun 1801 hingga 1825 dikenang sebagai salah satu masa terbaik dalam perjalanan Kesultanan Banjar. 

Pada masa inilah berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan, merebut kembali wilayah yang pernah dilepaskan kepada Belanda, serta menjaga martabat Banjar di tengah tekanan politik kolonial yang semakin besar.

Lahir dari Garis Keturunan Raja Banjar

Sultan Sulaiman Saidullah II lahir pada 16 Januari 1761 di Karang Intan, wilayah yang saat itu menjadi bagian penting dari Kesultanan Banjar. Ia merupakan putra dari Susuhunan Nata Alam, yang juga dikenal sebagai Sunan Nata Alam atau Panembahan Batu. Dari pihak ibu, ia merupakan anak dari Putri Lawiyah binti Muhammad.

Darah bangsawan yang mengalir dalam dirinya berasal dari garis keturunan raja-raja Banjar terdahulu. Kakeknya adalah Sultan Tahmidullah II, salah satu tokoh penting dalam sejarah kerajaan. Garis keturunan inilah yang kemudian mengantarkan Sulaiman Saidullah sebagai pewaris sah takhta Kesultanan Banjar.

Sejak usia yang sangat muda, masa depannya sebagai calon pemimpin kerajaan telah dipersiapkan. Pada tahun 1767, ketika usianya baru enam tahun, ia dianugerahi gelar Sultan Muda oleh ayahnya. 

Pemberian gelar tersebut bukan sekadar penghormatan, melainkan langkah politik untuk memperkuat garis suksesi kerajaan dan menjaga stabilitas pemerintahan pada masa mendatang.

Karang Intan sebagai Pusat Kekuasaan Kerajaan

Karang Intan bukan hanya menjadi tempat kelahiran Sultan Sulaiman Saidullah II. Wilayah ini juga memiliki arti penting karena menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banjar selama masa pemerintahannya.

Pada era kepemimpinannya, keraton dipindahkan ke Karang Anyar, Karang Intan. Sebelumnya pusat kerajaan berada di kawasan Sungai Basar yang dikenal sebagai Karang Keraton. 

Pemindahan pusat pemerintahan tersebut menunjukkan pentingnya Karang Intan sebagai pusat politik dan administrasi kerajaan pada awal abad ke-19.

Keberadaan keraton di Karang Intan menjadikan wilayah ini sebagai pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan hubungan diplomatik Kesultanan Banjar dengan berbagai pihak, termasuk Belanda.

Naik Takhta sebagai Sultan Banjar

Setelah melalui proses pewarisan yang panjang, Sultan Sulaiman Saidullah II akhirnya naik takhta sebagai Sultan Banjar pada tahun 1801. Ia menggantikan Sultan Tahmidullah II dan memimpin kerajaan dalam situasi politik yang tidak mudah.

Meski beberapa sumber menyebut masa pemerintahannya secara efektif berlangsung sejak tahun 1808, sebagian besar catatan sejarah mencatat bahwa ia mulai memegang tampuk pemerintahan sejak tahun 1801 hingga wafat pada tahun 1825.

Dalam perhitungan sejarah kerajaan, Sultan Sulaiman Saidullah II dikenal sebagai Raja Banjar ke-19 pada periode kerajaan Hindu dan Sultan Banjar ke-11 pada periode Islam. 

Posisi tersebut menunjukkan betapa panjang dan kaya perjalanan sejarah Kesultanan Banjar sebelum akhirnya memasuki masa kolonial yang lebih intensif.

Sultan Banjar Terakhir dengan Kekuasaan Absolut

Salah satu alasan mengapa nama Sultan Sulaiman Saidullah II begitu penting dalam sejarah adalah karena ia dianggap sebagai sultan terakhir yang memiliki kekuasaan absolut di tanah Banjar.

Pada masa pemerintahannya, keputusan-keputusan penting kerajaan masih berada sepenuhnya di tangan sultan. Ia memiliki otoritas penuh dalam urusan pemerintahan, hukum, diplomasi, hingga pengelolaan wilayah kerajaan.

Namun, masa pemerintahannya juga menjadi awal dari perubahan besar. Belanda mulai meningkatkan pengaruh politiknya di Kalimantan Selatan. Tekanan kolonial yang semakin kuat perlahan mengurangi kemandirian Kesultanan Banjar. Karena itulah, periode kepemimpinan Sultan Sulaiman sering disebut sebagai masa transisi antara kedaulatan penuh kerajaan dan era dominasi kolonial.

Berhasil Mengambil Kembali Wilayah yang Lepas ke Belanda

Keberhasilan terbesar Sultan Sulaiman Saidullah II adalah upayanya mengambil kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya telah diserahkan kepada Belanda.

Tindakan ini menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan seorang penguasa yang memiliki visi mempertahankan kedaulatan kerajaan. 

Dalam berbagai catatan sejarah, keberhasilannya merebut kembali beberapa wilayah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masa pemerintahannya dianggap sebagai salah satu periode terbaik dalam sejarah Kesultanan Banjar.

Keberhasilan itu juga memperlihatkan keberaniannya menghadapi tekanan politik kolonial yang pada masa itu mulai berkembang di berbagai wilayah Nusantara.

Konflik Politik dengan Pemerintah Belanda

Hubungan Sultan Sulaiman Saidullah II dengan pemerintah kolonial Belanda tidak selalu berjalan baik. Bahkan, Belanda tidak mengakui dirinya sebagai Sultan Banjar yang sah.

Situasi tersebut memunculkan berbagai ketegangan politik. Pemerintah kolonial berusaha memaksa Sultan Sulaiman untuk memperbarui dan menebus berbagai perjanjian yang sebelumnya dibuat antara pihak Banjar dengan Belanda.

Perselisihan ini menjadi salah satu gambaran bagaimana Belanda berusaha memperluas pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan lokal di Nusantara. Kesultanan Banjar termasuk salah satu kerajaan yang menghadapi tekanan tersebut secara langsung.

Kisah Intan 26 Karat yang Menjadi Bagian Sejarah Banjar

Salah satu peristiwa paling terkenal pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Saidullah II terjadi pada 9 September 1809.

Pada saat itu, Sultan Sulaiman menyerahkan sebuah intan seberat 26 karat yang nilainya ditaksir mencapai 50.000 gulden atau sekitar 25.000 real. 

Penyerahan intan tersebut bukanlah bentuk upeti kepada Belanda, melainkan bagian dari strategi politik untuk memperoleh kembali penguasaan atas benteng-benteng Belanda di Pulau Tatas, kawasan yang kini menjadi bagian dari Kota Banjarmasin, serta benteng di Pantai Tabonio.

Peristiwa tersebut terjadi pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Langkah Sultan Sulaiman menunjukkan kecerdasannya dalam menggunakan jalur diplomasi dan negosiasi untuk memperjuangkan kepentingan kerajaan.

Kisah intan 26 karat ini hingga kini menjadi salah satu cerita sejarah yang paling sering dikaitkan dengan nama Sultan Sulaiman Saidullah II.

Masa Transisi Menuju Era Sultan Adam

Menjelang akhir masa pemerintahannya, pengaruh Belanda semakin kuat dalam kehidupan politik Kesultanan Banjar. Kondisi ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi kerajaan.

Ketika Sultan Sulaiman wafat pada tahun 1825, tampuk pemerintahan diteruskan oleh putranya, Sultan Adam Alwasih Billah. Pemerintahan Sultan Adam berlangsung hingga tahun 1857 dan menghadapi situasi politik yang jauh lebih kompleks karena campur tangan Belanda semakin besar dibandingkan masa sebelumnya.

Oleh sebab itu, Sultan Sulaiman sering dianggap sebagai penghubung antara masa kejayaan Kesultanan Banjar yang merdeka dan periode menjelang pecahnya Perang Banjar pada tahun 1859.

Wafat dan Dimakamkan di Desa Lihung

Sultan Sulaiman Saidullah II wafat pada 3 Juni 1825, yang bertepatan dengan 4 Rabiul Awal 1240 Hijriah.

Jenazahnya dimakamkan di Desa Lihung, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kompleks makam tersebut berada sekitar 20 meter dari tepi Sungai Karang Intan dan hingga kini masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat setempat.

Pada masa awal, bangunan makam memiliki bentuk menyerupai Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi. Seiring waktu, bangunan tersebut mengalami perubahan dan kini berbentuk kubah beton menyerupai arsitektur masjid.

Masyarakat setempat juga mengenal kompleks makam ini dengan sebutan Makam Datu Keramat. Lokasi tersebut menjadi salah satu situs sejarah penting yang berkaitan dengan perjalanan Kesultanan Banjar.

Haul dan Penghormatan terhadap Sultan Sulaiman

Hingga saat ini, nama Sultan Sulaiman Saidullah II masih dikenang oleh masyarakat Banjar melalui berbagai kegiatan keagamaan dan sejarah. Setiap tahun dilaksanakan haul untuk memperingati wafatnya pada tanggal 3 Juni 1825.

Kegiatan haul biasanya berlangsung di kawasan makam beliau di Desa Lihung, Karang Intan. Acara tersebut tidak hanya menjadi sarana mengenang jasa-jasa sang sultan, tetapi juga menjadi media pelestarian sejarah dan budaya Banjar bagi generasi muda. 

Dalam beberapa kesempatan, tokoh akademisi dan pemerhati sejarah seperti Dr. Andin Sofyanoor turut hadir untuk memberikan pemaparan mengenai peran penting Sultan Sulaiman dalam perjalanan Kesultanan Banjar.

Warisan Sejarah Sultan Sulaiman Saidullah II

Sultan Sulaiman Saidullah II meninggalkan warisan yang sangat besar bagi masyarakat Banjar. Ia dikenang sebagai penguasa yang berani mempertahankan kedaulatan kerajaan, mampu merebut kembali wilayah yang hilang, serta menjadi sultan terakhir yang memegang kekuasaan absolut di Kesultanan Banjar.

Kepemimpinannya menjadi simbol keteguhan menghadapi tekanan kolonial sekaligus penanda berakhirnya era kemandirian penuh kerajaan. 

Masa pemerintahannya antara tahun 1801 hingga 1825 merupakan salah satu periode paling penting dalam sejarah Kalimantan Selatan, karena menjadi fondasi bagi berbagai peristiwa besar yang kemudian terjadi, termasuk lahirnya masa pemerintahan Sultan Adam dan berkembangnya dinamika politik yang akhirnya bermuara pada Perang Banjar.

Oleh karena itu, Sultan Sulaiman Saidullah II bukan sekadar seorang raja, melainkan tokoh transisi yang menentukan arah sejarah Kesultanan Banjar. Namanya tetap dikenang sebagai salah satu sultan terbesar yang pernah memimpin tanah Banjar di tengah perubahan zaman yang sangat menentukan.

 

Related Posts

Liem Bian Kho (Lin Bien Ko), Kapten Syahbandar Pelabuhan Tatas
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Sejarah Kota Banjarmasin
Sejarah Pangeran Hidayatullah
Banjar Media Editorial Team

Research and Analyst Team

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.